Senin, 21 Januari 2013

Metodologi Hermeneutika Hassan Hanafi

Anas Mujahidin
Sebagian umat Islam mencoba untuk mengkaji tentang Barat atau yang sering disebut dengan oksidentalisme. Oksidentalisme adalah istilah yang dipopulerkanoleh Hassan Hanafi, seorang intlektual yang berasal dari Mesir. Dalam jurnal berkalanya “Al-Yasar Al-Islam: Kitâbahal-Nahdhah al-Islâmiyyah” pada tahun 1981. Dalam esai pertama jurnal itu yang berjudul “Apa arti Kiri Islam?”, Hassan Hanafi mendiskusikan beberapa isu penting berkaitan dengan kebangkitan Islam. Secara singkat dapat dikatakan, Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam, dan kesatuan umat. Pilar pertama adalah revitalitas khazanah Islam klasik.Hassan Hanafi menekankan perlu rasionalisme untuk merevitalisasi khazanah Islam itu. Rasionalisme merupakan keniscayaan untuk kemajuan dan kesejahteraan Muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menantang peradaban Barat. Ia memperingatkan pembacanya akan bahaya imperialisasi kultural Barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa yang secara kesejarahan kaya.Ia mengusulkan “Oksidentalisme” sebagai jawaban “Orientalisme” dalam rangka mengakhiri mitos peradaban Barat. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia Islam. Untuk analisis ini, ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri. Menurut Hassan Hanafi, dunia Islam kini sedang menghadapi tiga ancaman yaitu imperialisme, zionisme, dan kapitalisme dari luar. Kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan dari dalam. Kiri Islam berfokus pada problem-problem era ini.

Dari pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh Hassan Hanafi diatas jelas membuktikanbahwa ia sangat kritisterhadapdunia Barat karena menurutnya, Barat hanya ingin membasmi bangsa-bangsa yang kaya dari segi kesejarahannya maupun peradabannya. Dalam hal ini yang dimaksud pastilah Islam, karena Islamlah yang dalam sejarah paling kaya akan peradaban. Sebenarnya Islam jauh lebih hebat dibandingkan dengan dunia Barat. Dari tauhid saja umat Islam sudah mampu menciptakan banyak peradaban, karena tauhid tidak hanya berarti “keesaan Tuhan” tetapi lebih dalam tauhid dalam buku The Cultural Atlas of Islam, karya Ismail Raji al-Faruqidan Louis Lamya al-Faruqi,juga berarti “general view of reality, of truth, of the world, of space and time, of human histor (pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu dan sejarah manusia).Karenanya, ketika umat Islam mengerti tentang arti tauhid saja, maka ia sudah menciptakan peradaban baru. Tetapi umat Islam sekarang ini sudah tidak mengenal siapa dirinya, bagaimana agamanya dan bagaimana mereka memiliki peradaban yang sangat kaya. Inilah yang menurut saya ingin di jelaskan oleh Hassan Hanafi dalam pilar-pilar “Kiri Islam” agar umat Islam lebih bangga menjadi dirinya sendiri.

Tidak hanya sampai disitu, Hassan Hanafi juga mengusulkan oksidentalisme sebagai lawan tanding bagi orientalisme. Jika orientalisme menjadikan Timur sebagai objek dan Barat sebagai subjek maka dalam oksidentalisme Barat yang menjadi objek dan Timur sebagai subjeknya. Hassan Hanafi juga memandang pentingnya faktor internal oleh karenanya ia juga memberikan analisis terhadap dunia Islam dengan cara mengkritik metode tradisional yang menafsirkan sesuatu hanya dengan teksnya bukan dengan konteksnya.

Inilah materi yang akan dibawakan oleh saudara Anas Mujahiddin dalam diskusi mingguan AMPIQU tanggal 25-Januari-2013 di Asrama PTIQ. Ayo kawan, semeton jari senamian sama-sama kita hadiri diskusi ini dalam rangka menambah wawasan kita. Menteri Pendidikan AMPIQU. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar