Jumat, 11 Januari 2013

Agama dan Budaya dalam Kehidupan Sehari-hari



Agama dan budaya ini memang tema yang sejak dahulu sering diperdebatkan dan didiskusikan, mulai dari hubungannya, bagaimana sejarah timbulnya bahkan sampai kepada sejauh mana keduanya itu saling mempengaruhi. Untuk mengetahui semuanya itu maka terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi agama dan budaya, setelah itu barulah kita akan mengetahui bagaimana hubungan keduanya.
Pertama yang akan kita bahas adalah agama. Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata”a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sejarah agama sudah setua sejarah manusia itu sendiri karena menurut The New Encyclopaedia Britannica “sejauh yang telah ditemukan para sarjana, tidak pernah ada orang dimanapun dan kapanpun yang sama sekali religius”. Orang-orang Eksimo di Kutub Utara yang beku, orang Nomad (pengembara) di Gurun Sahara, penduduk kota-kota metropolitan seperti Jakarta maupun dibelahan dunia lainnya semuanya itu mempunyai Tuhan yang tata cara penyembahannya berbeda-beda.
Penelitian tentang asal-usul dan perkembangan agama merupakan bidang yang relatif baru. Selama berabad-abad, sedikit banyak orang hanya menerima tradisi agama yang mereka peroleh sejak lahir dan dengan itu mereka dibesarkan. Kebanyakan manusia puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh nenek moyang mereka dan merasa bahwa agama itulah yang paling benar. Namun abad ke-19, keadaan mulai berubah. Teori evolusi mulai meluas dikalangan para cendikiawan. Hal itu, sejalan dengan penilitian ilmiah sehingga banyak orang yang mempertanyakan sistem-sistem yang sudah ada termasuk agama. Menyadari terbatasnya petunjuk yang dapat mereka peroleh dari agama yang sudah ada, berapa sarjana beralih kepada peninggalan-peninggalan dari peradaban awal atau tempat-tempat orang yang masih hidup primitif. Mereka mencoba untuk menerapkan metode psikologi, sosiologi dan antropologi. Tetapi ternyata hasilnya berbeda antara ilmuan yang satu dengan yang lain.
Selanjutnya adalah masalah budaya, masalah definisi dari budaya ini banyak pendapat para ahli yang akan saya kutip, diantaranya:
1.      Budaya menurut Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Budaya dapat diperoleh dari belajar, dan gagasan dalam pikiran dan kemudian terwujud dalam seni.
2.      Menurut Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan adalah "sesuatu" yang
berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris. Jadi
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan berkembang seiring dengan perkembangan evolusi batin maupun fisik manusia secara kolektif.
3.      Budaya menurut Selo Soemardjan dan soelaiman soemardi adalah semua hasil harya, rasa, dan cipta masyarakat.          
Dari depinisi yang dipaparkan oleh para ahli tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa budaya adalah berasal dari masyarakat dan di aplikasikan didalam masyarakat tersebut. Selain itu budaya juga mempunyai beberapa sifat yaitu Budaya terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia, Budaya diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya dan Budaya mencakup aturan-aturan yang berisi kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, dilarang dan diijinkan.
Setelah kita mengetahui tentang agama dan budaya maka selanjutnya adalah bagaimana hubungan keduanya dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami jikalau perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengarui. Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam hal hubungannya dengan manusia atau lebih dikenal dengan hablum min an-anas. Seperti contohnya ketika lebaran maka orang baramai-ramai untuk membuat ketupat, padahal ketupat ini tidak ada dalam aturan agama tetapi karena budaya membuat ketupat ini sudah menjadi ciri khas dari lebaran maka ada semacam dorongan untuk memperingati hari lebaran itu dengan membuat ketupat, ini sedikit contoh kebudayaan mempengaruhi agama.
Lalu bagaimana dengan agama mempengaruhi kebudayaan seseorang? Hal ini bisa kita contohkan ketika seseorang berpindah agama cara berfikir dan cara hidupnya dapat berubah secara signifikan. Dapat dilihat seseorang yang beragama Kristen pindah menjadi agama Islam maka pandangan hidupnya akan berubah pula, contohnya cara pandang mareka dalam berpakaian ketika mereka beragama Kristen cara berpakain mereka kurang menutup aurat tetapi ketika mereka telah beragam Islam cara berpakaian mereka menutup aurat.
Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling bertentangan, kuduanya justru saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ” Manusia yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu beragama”. Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti perkembangan jamannya. Wallahu a’lam.










Pemikiran Washil bin Atha'



M. Sufiyan Hadi

Aliran mutajilah lahir pada masa pemerintahan Bani Umayah. Mutajilah dari kata kerja yakni: “Za’ala, artinya: berpisah. Mereka adalah pengikut dari Abul Husain Wahil bin ‘Atha yang memisahkan diri dari gurunya yang bernama Hasan Basri. Masalah pertama yang menjadikan mereka berpisah dari Hasan Basri ialah maslaah “murtakibil kabirah” yakni memperbincangkan kedudukan orang yang melakukan dosa besar. Persoalan ini muncul pada suatu saat seorang bernama Washil bin ‘Atha berada di majlis kuliah gurunya bernama Hasan. Didalam kesempatan ini Washil berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah yasik, yakni: suatu posisi yang berada diantara dua keadaan: orangg itu bukan mukmin juga bukan kafir.
Salam kaitan ini dijelasakan pula bahwa pada suatu waktu datang seorang menanyakan soal kepada sang guru. Pertanyaan itu ialah: “bila seorang beriman meningal dunia sedangkan ia pernah berbuat dosa besar, maka dimana ia ditempatkan oleh Allah diakhirat nanti? Disurga atau dineraka?
Sang murid mendengar soal itu bangkit dan menjawab manusia yang demikian ditempatkan diantara surga dan neraka, pendapatnya ini berlainan dengan pendapat gurunya karena pendapat ini ia mengasingkan diri dan mengadakan tempat sendiri untuk mengajarkan pengikutnya, oleh karena pengasingan ini ia pun dinamakan “mutajilah” dan alirannya dinamakan mutajilah.
Menurut kaum mutajilah sumber pengetahuan yang paling utama adalah akal. Sedangkan wahyu berfungsi mendukung kebenaran akal. Menurut mereka apabila terjadi pertentangan antara ketetapan akal dan ketentuan wahyu maka yang diutamakan adalah “ketetapan akal”. Adapaun ketentuan wahyu kemudian ditajwilkan sedemikian rupa supaya sesuai dengan ketetapan akal, atas dasar inilah orang berpendapat bahwa timbulnya aliran mutajilah merupakan lahirnya aliran rasionalisme didalam islam.
Penganut aliran mutajilah dijuluki “Ahlut Tauhid wal Adli”sebab aliran ini lebih menonjolkan mengenai ke-Esaan Tuhan dan ke-Adilan Tuhan. Masalah-masalah yang menjadi pemabahasan kaum mutajilah terdiri dari lima pokok dan lima prinsip yakni: Tauhid (ke-Esaan Tuhan); al-Adl (ke-Adilan Tuhan); al-Wa’dul wal wa’td (janji dan nacaman); manzilat dan antara manzilat; dan amarma’ruf nahi munkar. Ingin tahubagaimana kelanjutan bahasan itu? ikuti diskusi AMPIQU Jum'at malam di asrama PTIQ........!!!

Sabtu, 05 Januari 2013

Matahari dari Tuhan


Yusri Hamzani

Matahari terbit dari sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, sebenarnya ini adalah ilmu tersirat dari Tuhan yaitu peradaban itu akan muncul di timur kemudian akan berujung di barat. Apakah benar demikian? Dalam artikel kali ini, saya ingin mengemukakan bagaimana andil dunia timur dalam kemajuan barat sekarang ini.
 Kejayaan Islam di masa lalu bukan karena hanya dilihat dari kemakmuran dan kemegahan istana-istana khalifahnya saja tetapi juga dari tingkat khazanah keilmuannya yang dibukukan dan disimpan dalam ruang perpustakaan yang dikenal dengan nama Baitul Hikmah. Para sejarawan tahu bahwa umat Islam pernah mengalami kejayaan peradaban. Baghdad dan Andalusia (Cordoba) adalah contoh paling nyata kegemilangan tersebut. Kegemilangan tersebut terjadi karena umat Islam mampu membangun tradisi ilmu yang kuat. Dari tradisi ilmu ini kemudian umat Islam mampu tampil menjadi pemimpin peradaban dunia. Dan salah satu tempat tradisi ilmu yang dibangun oleh umat Islam adalah perpustakaan.
Pada masa Abbasiyyah, Baghdad adalah menara ilmu pengetahuan, di sanalah berdiri perpustakaan yang sangat megah dan menjadi kiblat menuntut ilmu pada zaman itu. perpustakaan tersebut dikenal dengan nama Baitul Hikmah. Ini adalah salah satu peradaban yang berilian suatu kebudayaan yang kaya. Sumbangan-sumbangan sama pentingnya bagi Barat, yang pada abad-abad berikutnya mengambil dan memasukkan pengetahuan dan kearifan Islam. Jadi pada zaman Abbasiyyah, kelengkapan Islam jelas terwujud dan terlukiskan sebagai berikut:
Esposito Jhon dalam bukunya Islam Warna Warni menuliskan Islam anak turun Arabia dan Nabi Arabia bukan cuma sistem kepercayaan dan pemujaan. Islam adalah juga sistem negara, masyarakat, hukum, pemikiran dan seni sebuah peradaban dengan agama sebagai pemersatu dan akhirnya faktor yang mendominasi.
Baitul Hikmah pertama kali dibangun oleh Harun Ar-Rasyid. Usaha Ar-Rasyid tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Al-Makmun. Pada waktu itu, Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya seperti Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah itu pun memiliki berbagai divisi. Ada divisi untuk menyimpan buku, menerjemah, mencetak, menulis, menjilid, dan meneliti. Singkatnya, Baitul Hikmah benar-benar menjadi tempat ilmu pengetahuan yang sangat berharga.
Bahkan, dalam perjalanannya, tempat tersebut bukan hanya berupa rumah buku. sebagaimana terjadi pada perpustakaan zaman sekarang, tetapi berubah menjadi universitas. Dari tempat tersebut, lahir berbagai riset dan karya ilmiah yang sangat berharga. Bahkan, tempat tersebut pun menjadi tempat observasi bintang. Baitul Hikmah akhirnya menjadi tempat berkumpul para peneliti, ilmuan, serta pencari ilmu dari berbagai tempat dan berbagai negara. Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Baladzari, dan lain-lain adalah ilmuwan-ilmuwan besar yang meramaikan Baitul Hikmah.
Bahkan Baitul Hikmah kemudian menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam profesi. Dari mulai ilmuwan, tukang cetak, sampai tukang jilid berkumpul di sana. Tentu saja, aktivitas tersebut akan menciptakan sebuah industri. Bahkan, dari sinilah, umat Islam menjadi pencetus industri kertas dan percetakan. Berbagai cabang ilmu filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, sejarah, geografi, musik, ilmu kalam, mantik, kimia, dan lain-lain dipelajari di Baitul Hikmah. Para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu-ilmu tersebut dianggap sebagai sarjana yang telah lulus dari Perguruan Tinggi.
Aktivitas penerjemahan dari bahasa-bahasa non-Arab kepada bahasa Arab betul-betul mencapai puncaknya. Berbagai cabang ilmu yang ditulis dalam bahasa Persia, Yunani, dan lain-lain diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dari aktivitas pernerjemahan itulah, karya-karya intelektual banyak diselamatkan. Umat Islam menjadi pemeran utama dalam proses penyelamatan tersebut.
Selain hal-hal di atas, Baitul Hikmah pun berfungsi sebagai tempat untuk berdiskusi dan berdebat. Berbagai cabang ilmu didiskusikan di sana. Bahkan karena banyak non-muslim yang datang, Baitul Hikmah pun menjadi tempat berdebat dan berdiskusi tentang masalah-masalah teologis dalam agama. Seluruh diskusi dan debat tersebut dilakukan dalam iklim yang sangat ilmiah dan toleran.
Ilmu adalah hal yang menyebabkan umat Islam dihormati dan disegani oleh masyarakat dunia. Karena ilmu, umat Islam menjadi umat yang mampu membangun peradaban tinggi. Dan, tempat ilmu paling ideal adalah perpustakaan. Kegiatan yang dilakukan oleh Baitul Hikmah pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih lagi Baitul Hikmah menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan nomor satu.
Devid Levering Lewis dalam bukunya The Greatnes of Andalusis berkata Dari Baitul Hikmah inilah kemudian lahir sarjana-sarjana yang meramaikan ilmu di Barat. Contohnya adalah Al-Kindi mengaku dapat menyelaraskan filsafat Yunani dengan ajran Al-Qur’an. Karyanya Risalah tentang Akal membuatnya meraih kemasyhuran sebagai “filusuf pertama Islam” dan penghormatan dan celaan menurut perasangka teologi sebagai sumber orisinil dari ide-ide Neoplatonik dan Aristotalian yang membanjiri dan mengusik Kristen Barat empat abad kemudian. Aljabar elementer akan tiba di Kordoba dari Baghdad sekitar awal abad ke-9, ketika buku pertama yang berjudul Kitab Al-Jabr wa Al-Muqabalah karya Khawarizmi.
Orang Andalusia menyesuaikan pembelajaran baru dalam ilmu pengetahuan dengan kesigapan tanpa gangguan, sehingga membuka jalan bagi ilmu pengetahuan Muslim untuk meresap ke Kristen Barat. Oleh karenanya pada hakikatnya orang-orang Barat banyak berhutang budi kepada orang-orang Islam karena dengan bantuan para serjana Muslim-lah mereka bisa mengubah peradaban mereka tetapi mereka tidak pernah mau menerima realita ini, mereka tetap bersikeras bahwa para sarjana Muslim hanya batu loncatan karena para sarjana Islam juga belajar kepada filosof-filosof Barat. Padahal tidak semua pengetahuan dari Barat diterima mentah-mentah oleh orang-orang Islam tetapi disaring dan disesuaikan dengan ajaran Al-Qur’an contohnya saja Al-Kindi yang telah kita sebutkan diatas.

Gurunya Tuan Guru di Pulau Seribu Masjid

A.    Pendahuluan
Lombok adalah sebuah pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di pulau inilah seorang yang benama Muhammad Zainuddin Abdul Majid dilahirkan yang pada zamannya sampai sekarang menjadi panutan para tokoh Nahdlatul Wathan (NW). Zainuddin pernah manjadikan pulau yang terkenal dengan seribu masjid ini sebagai kiblat menuntut ilmu Agama pada masanya. Oleh karenanya saya tertarik untuk menulis tentang beliau sebagai tokoh yang mempengaruhi karakteristik bangsa Indonesia.
B.     Biografi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang nama kecilnya Muhammad Saggaf dilahirkan pada hari Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1326 H (1904 M), di kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur (sekarang Kecamatan Selong) Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.
Ayah dari Maulana al-Syaikh (panggilan akarab Muhammad Zainuddin Abdul Majid)  adalah Guru Minah atau Guru Mukminah, itulah nama populernya yang selanjutnya diganti dengan nama Haji Abdul Majid, sedangkan ibunya bernama Inaq Syam yang selanjutnya berganti nama Hajah Halimah as-Sa’diyah setelah selesai melaksanakan ibadah haji.
Silsilah Zainuddin tidak bisa diungkapkan secara jelas, terutama silsilah ke atas, karena catatan dan dokumen silsilahnya ikut terbakar ketika rumahnya mengalami musibah kebakaran. Namun menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang terpandang, yakni dari keturunan raja-raja Selaparang yang ke-17.[1] Zainuddin selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dan ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat dan ada pula yang wafat terlebih dahulu semasa ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai macam latar belakang.
Adapun nama-nama istri beliau adalah: Khasanah, Hajah Siti Fatmah, Hajah Raihan, Hajah Siti Jauhariyah, Hajah Siti Rahmatullah, Hajah Siti Zuhkriyah Mukhtar dan Hajah Adniyah.
Selanjutnya dari ketujuh istrinya, beliau hanya mendapatkan dua orang putri, yaitu Siti Rauhun dari istrinya Hajah Siti Jauhariyah dan Siti Raihanun dari istrinya Hajah Siti Rahmatullah.
Dari kedua orang putrinya ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. Dari Siti Rauhun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu: Siti Rahmi Jamilah, Syamsul Luthfi (sekarang sebagai Wakil Bupati Lombok Timur), Muhammad Zainul Majdi (sekarang sebagai Gubernur NTB), Muhammad Jamaluddin, Siti Suraya dan Siti Hidayati.
Sedangkan cucunya yang lahir dari Siti Raihanun adalah: Lalu Gede Wirasakti Amir Marni, Lale Laksemining Puji Jagat, Lalu Gede Syamsul Mujahidin, Lale Yaqutunnafis, Lale  Syifa’un Nufus, Lalu Gede Zainuddin at-Tsani dan Lalu Gede Muhammad Fatihin.
Akhirnya Zainuddin wafat pada hari Selasa, 21 Oktober 1997 jam 20.10 WITA cukup menyesakkan batin dan duka jutaan masyarakat muslim khususnya kalangan keluarga besar Nahdlatul Wathan, santri, kerabat, sahabat yang berada di Indonesia bahkan sampai ke Timur Tengah. Tiga puluh enam hari sebelum wafat, Zainuddin masih sempat mengumpulkan ratusan ribu jamaah Nahdlatul Wathan (NW) yang datang dari seluruh Indonesia. Dalam pidatonya, ia meminta agar segenap warga Nahdlatul Wathan tetap menjaga kekompakan dan selalu berpegang teguh pada motto perjuangan Nahdlatul Wathan.[2]
 
C.    Modernisasi Pendidikan Islam di NTB
Kedatangan TG. KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, modernisasi lembaga pendidikan Islam memasuki babak baru. Upaya Zainuddin untuk memodernkan lembaga pendidikan Islam dipengaruhi langsung dari Makkah. Tidak lama setelah beliau kembali dari Makkah, ia mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan (NW). Sejak awal berdirinya yang didirikannya sudah menerapkan sistem klasikal yang di adopsi dari madrasah al-Shaulatiyyah Makkah yang dikenal lebih modern. Hal ini dilakukan Zainuddin setelah melihat kondisi pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat masih tradisional yang menggunakan sistem halaqah sebagai metode pengajarannya. Ia menilai bahwa sekolah umum yang dikenal sebagai pendidikan Barat dipandang tidak ideal untuk diterapkan di lembaga pendidikan Islam. Sebab keberadaannya disediakan oleh kolonial dengan misi tertentu yang tidak sejalan dengan nilai Islam.[3]
Dengan misi tertentu ini menyebabkan masyarakat kurang tertarik untuk memasukkan anaknya di sekolah umum. Persepsi masyarakat inilah yang mendorong diterimanya gagasan Zainuddin untuk mendirikan madrasah. Ia menyeru agar ummat Islam merebut kemajuan modern yang diprakarsai oleh Barat, dan salah satu cara adalah harus melalui jalur pendidikan.
Jelas bahwa tema utama pemikiran Zainuddin tidak hanya melakukan purifikasi ajaran Islam melainkan mendorong ummat dan masyarakat Muslim agar mempelajari dan memanfaatkan kemajuan teknologi modern yang selama ini tidak dipelajari di madrasah atau pondok pesantren. Melalui Madrasah Nahdlatul Wathan, ia memperkenalkan sistem klasikal dan memasukkan ilmu pengetahuan umum ke dalam kurikulum madrasah. Tidak hanya sampai disini, Zainuddin menganggap bahwa untuk menguasai IPTEK haruslah menguasai ilmu alat seperti bahasa Arab dan Inggris.
Perjuangan untuk melakukan perubahan dan pembaharuan di dunia pendidikan Islam tersebut diselimuti oleh pengalaman heroik. Ia harus berhadapan dengan para ulama tradisional yang telah lama eksis ditengah masyarakat. Meski demikian Zainuddin tetap beranggapan bahwa hidup adalah perjuangan sedangkan perjuangan adalah kelelahan, kesibukan dan keyakinan. Semboyannya ialah hidup tanpa akidah dan gagasan tanpa keberanian berkurban adalah sia-sia, hampa bahkan sesat dan binasa.[4]
Lahirnya Madrasah Nahdlatul Wathan merupakan titik awal reformasi sistem  pendidikan Islam yang telah lama menjadi cita-cita Zainuddin. Sukses mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan, kemudian ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat yang dikhususkan bagi wanita.


D.    Modernisasi Kelembagaan
Terdapat dua konsep dasar tentang pemikiran pendidikan Islam Zainuddin. Pertama, memasukkan pengetahuan umum. Kedua, modernisasi sistem pengajaran. Keduanya merupakan gagasan orisinil, karena sebelumnya tidak ada institusi Islam yang mengajarkan pengetahuan umum dan menjadikan bahasa Arab dan Inggris sebagai pengantarnya.
Kini Madrasah Nahdlatul Wathan dan Madrasah Nahdlatul Banat berkembang bagaikan jamur di musim hujan. Zainuddin mengatakan:  “Madrasah Nahdlatul Wathan dan Nahdlatul Banat ada di mana-mana, namun tidak kemana-mana”. Maksudnya Madrasah Nahdlatul Wathan dan Madrasah Nahdlatul Banat berkembang keseluruh Indonesia, namun keberadaannya tetap dalam kesatuan Organisasi Nahdlatul Wathan yang berpusat di Pancor.
Pesatnya perkembangan ini membuat kalangan ulama’ tradisional mulai menyadari kekurangan dan kekeliruannya. Meski penetrasi tetap muncul, namun tidak berarti apa-apa bila dibandingkan di masa awal berdirinya. Apalagi perjuangannya diperkuat oleh barisan alumninya yang berkiprah di bidang pemerintahan dan politik yang semuanya tetap siap melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan. Pesatnya perkembangan lembaga tersebut membuat DPRD NTB menetapkan daerah Lombok Timur sebagai daerah istimewa dalam pendidikan agama Islam.

E.     Modernisasi Sistem Pengajaran
Dalam bidang kurikulum, Zainuddin beranggapan bahwa menguasai bidang studi agama seperti tauhid, fiqh, akhlak, dan sebagainya baru tampil di bidang moral, tetapi tidak perofisional dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, dengan menguasai ilmu pengetahuan agama seseorang hanya mampu berperan sebagai pembimbing spiritual dan belum sanggup memerankan diri dalam dunia birokrasi dan teknologi sebab tidak memiliki keterampilan dalam bidang tertentu. Karena itu, menurut Zainuddin tidak ada dikotomi ilmu (ilmu umum dan ilmu agama), keduanya penting untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ide orientasi dan reposisi sistem pendidikan dan pengajaran tersebut sebagai bentuk respons Nahdlatul Wathan terhadap proses modernisasi yang diseponsori oleh pihak kolonial. Secara garis besar tedapat dua jenis respons Nahdlatul Wathan terhadap modernisasi pendidikan. Pertama, merevisi kurikulumnya dengan memperbanyak mata pelajaran umum dan keterampilan umum. Kedua, membuka kelembagaan-kelembagaan berikut fasilitas-fasilitas pendidikannya untuk kepentingan umum.[5]
Lebih jauh lagi, Organisasi Nahdlatul Wathan tidak cukup dengan eksperimen madrasahnya. Dalam kaitan dengan itu Zainuddin terus mencoba mendirikan lembaga-lembaga pendidikan umum yang berada dibawah Departemen Pendidikan Nasional. Dengan kata lain, Organisasi Nahdlatul Wathan tidak hanya mendirikan madrasah, namun juga mendirikan sekolah-sekolah umum yang mengikuti sistem kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Dalam persoalan tersebut, banyak lembaga pendidikan Islam seperti pesantren yang melakukan hal yang sama, khusunya di Jawa seperti Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang dan lainnya.
Memang dalam beberapa literatur, kalangan cendikiawan belum menjadikan pesantren Nahdlatul Wathan sebagai objek kajian, tetapi tidak berarti pesantren tersebut tidak mempunyai prestasi sebagai mana pesantren lain di Jawa. Jumlah 806 buah madrasah dari tingkat dasar sampai menengah dan 4 perguruan tinggi dan 10 lembaga pendidikan non-formal menjadi bukti keberhasilan pesantren Nahdlatul Wathan dalam bidang pendidikan.

F.     Karir Politik
Karir politik Zainuddin dimulai sejak ia diangkat sebagai konsultan Nahdlatul Ulama (NU) Sunda Kecil pada tahun 1950. Selanjutnya ketika Nahdlatul Ulama bersama ormas-ormas Islam lainnya bergabung dalam Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI) di Nusa Tenggara Barat, maka ia diangkat sebagai Ketua Badan Penasehat Partai untuk daerah Lombok pada tahun 1952.
Dari tahun 1953-1955, Zainuddin menetapkan Organisasi Nahdlatul Wathan menganut kebijakan “politik-bebas”. Artinya organisasi ini tidak berafiliasi dengan kekuatan partai poltik manapun. Sehingga ia merestui terbentuknya Partai Nahdlatul Ulama, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), dan PSII di Lombok pada tahun 1953 dan 1954. Namun, pada tahun 1955, ia dan Organisasi Nahdlatul Wathan memilih berafiliasi dengan Partai Masyumi. Sehingga ia diangkat sebagai anggota konstitusi periode 1955-1959 sebagai hasil dari Pemilihan Umum pertama pada tahun 1955.[6]
Perkembangan selanjutnya Partai Masyumi dikucilkan dari DPR GR pada bulan April 1960 dan diperintahkan untuk membubarkan diri empat bulan kemudian, maka konstelasi perpolitikan nasional mulai mangalami kegoncangan. Polarisasi kekuatan politik menjadi tinggal tiga kekuatan besar, yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Nadlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Akhirnya lahirlah gagasan NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis), Nasionalis diwakili oleh PNI, Agama oleh NU, dan komunis oleh PKI.
KH. Zainuddin Abd. Madjid
 Setalah Partai Masyumi dibubarkan, dikalangan politisi Muslim Indonesia berkembang gagasan untuk membentuk suatu wadah partai politik sebagai pengganti Masyumi. Maka pada tahun 1968, lahirlah Partai Muslim Indonesia (PARMUSI). Partai ini didukung oleh sembilan organisasi Islam, diantaranya adalah Nahdlatul Wathan.
Khususnya di pulau Lombok, Nahdlatul Wathan merupakan ormas yang pertama kalinya dengan tegas medukung Parmusi. Asumsinya, Parmusi adalah duplikasi dari partai Masyumi. Namun dalam perkembangan selanjutnya Nahdlatul Wathan tidak dapat berperan aktif dalam partai tersebut. Hal ini disebabkan oleh tidak terakomodasinya aspirasi Nahdlatul Wathan sebagai ormas Islam yang memiliki basis konstituen terbesar dipulau Lombok.[7]
Selanjutnya setelah tidak aktif di Parmusi, Zainuddin dan Nahdlatul Wathan merubah haluan politiknya dengan berafiliasi kepada Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), suatu organisasi politik yang dibentuk atas gagasan Jendral A.H. Nasution. Dukungan yang diberikan oleh Zainuddin dan Nahdlatul Wathan kepada Sekber Golkar didasari oleh beberapa pertimbangan politik.
Dalam pemilihan umum tahun 1971 dan 1977, Zainuddin resmi terpilih sebagai anggota MPR RI dari Partai Golkar. Kemudian terpilih menjadi anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah tahun 1982.

G.    Jabatan dan Penghargaan
Secara kronologis, jabatan-jabatan yang telah diembannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Tahun 1934 mendirikan Pondok Pesantren al-Mujahidin.
2.      Tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah).
3.      Tahun 1943 mendirikan Madrasah NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah).
4.      Tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk Daerah Lombok Timur.
5.      Tahun 1946 pelopor penggepuran NICA di Selong Lombok Timur.
6.      Tahun 1947/1948 menjadi Amirul Haji ke Makkah dari NIT (Negara Indonesia Timur).
7.      Tahun 1948/1949 Anggota Delegasi NIT ke Saudi Arabia.
8.      Tahun 1950 Konsultan Nahdlatul Ulama (NU) Sunda Kecil.
9.      Tahun 1952 Ketua Badan Penasehat Masyumi daerah Lombok.
10.  Tahun 1953 mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan.
11.  Tahun 1953 Ketua Umum PBNW pertama.
12.  Tahun 1953 merestui terbentuknya NU dan PSII di Lombok Timur.
13.  Tahun 1954 merestui terbentuknya PERTI Cabang Lombok.
14.  Tahun 1955-1959 Anggota Konstitusi RI hasil pemilu satu (1955).
15.  Tahun 1964 mendirikan Akademi Paedagogik Nahdlatul Wathan.
16.  Tahun 1965 mendirikan Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits al-Majidiyah as-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan.
17.  Tahun 1971-1982 Anggota MPR RI dari Fraksi Utusan Daerah.
18.  Tahun 1971-1982 Anggota Penasehat Majelis Ulama Indonesia Pusat.
19.  Tahun 1975 Ketua Penasehat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram.
20.  Tahun 1977 mendirikan Universitas Hamzanwadi.
21.  Tahun 1977 menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi.

Selanjutnya , disamping jabatan-jabatan struktural dan non-struktural yang diembannya, ia juga memperoleh beberapa tanda jasa dan penghargaan atas dedikasi kepeloporan dan pengabdian terhadap Negara Republik Indonesia.
Pada tahun 1995 ia dianugrahi Piagam Penghargaan dan Medali Pejuang Pembangunan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dan pada tanggal 4 November 2000 dengan KEPRES RI. No. 199/TK/Tahun 2000, KH. Abdurrahman Wahid selaku Presiden RI menganugrahi Piagam Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra kepada Zainuddin dalam posisi dan jabatan beliau sebagai Pendiri Persyarikatan Nahdlatul Wathan Lombok Timur NTB sebagai tokoh Pejuang Pembela Kemerdekaan, serta Mantan Anggota MPR RI Tahun 1971-1982.[8]

H.    Kesimpulan
Dari semua uraian itu, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Zainuddin dan Nahdlatul Wathan telah mampu menjadi cahaya dalam kegelapan pengetahuan ummat Islam yang ada di Lombok khususnya dan Indonesia umumnya. Tidak hanya itu, Zainuddin juga mampu menciptakan sebuah modernisasi dibidang pendidikan, kelembagaan dan lain sebagainya. Selain berdakwah melalui pendidikan, Zainuddin juga terjun ke ranah politik untuk memperbaiki keadaan perpolitikan bangsa ini. Sampai sekarang dakwah Zainuddin masih di teruskan oleh keturunannya diantaranya adalah TG. KH. Zainul Majdi yang menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat sekaligus sebagai kyai yang memimpin pondok pesantren Nahdlatul Wathan. Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya kalau kita mengatakan bahwa Zainuddin adalah seorang kyai yang mampu dan ikut serta dalam pembentukan karakteristik bangsa ini. (Yusri Hamzani).

DAFTAR PUSTAKA
Noor, Muhammad, dkk,  Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Maji. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004.
Nu’man, dkk, Biografi Maulana Syeikh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Pancor: Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, 1999.
Masnun, dkk, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Maji. Jakarta: Pustaka Al-Miqdad, 2007.
Muslihah Habib, dkk, Reposisi Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Jakarta: Panamadani, 2010.





[1]Muhammad Noor, dkk, Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaenuddin Abdul Majid, (Jakrta, PT. Logos Wacana Ilmu, 2004), cet. 1, hal. 136
[2]Masnun, dkk, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Jakarta: Pustaka Al-Miqdad, 2007).
[3]Masnun, dkk, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Jakarta: Pustaka Al-Miqdad, 2007), cet. 1, hal. 50

[4]Nu’man, dkk, Biografi Maulana Syeikh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Pancor: Pengurus Besar Nahdhatul Wathan, 1999), hal. 24
[5]Masnun, dkk, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Jakarta: Pustaka Al-Miqdad, 2007), cet. 1, hal. 50

[6]Muhammad Noor, dkk, Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004), cet. 1, hal. 269
[7]Habib Muslihah, dkk, Reposisi Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, (Jakarta: Panamadani, 2010), cet. 3, hal. 14

[8]Muhammad Noor, dkk, Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2004), cet. 1, hal. 281